Analisis Film Hannibal Lecter

Rabu, 11 Juni 2014

Hannibal Lecter

Disini saya mau menganalisis film yang pemeran utamanya adalah Dr.Hannibal Lecter seorang psikiater, pembunuh genius dan seorang kanibal. Ada 4 judul film yang menceritakan tentang Hanibal Lecter dan dijamin bikin kalian- kalian yang nonton tegang, terbengong-bengong dan mungkin sebagian perempuan akan teriak dan menutup mata hehe..
Judul film itu adalah “Silent of The Lamb”, “Hannibal”, “Red Dragon” dan “Hannibal Rising”. Yuuk langsung aja cuuss kita simak sinopsis nyaa
Synopsis
Clarice Straling merupakan mahasiswi yang ditugaskan FBI untuk mengungkap kasus kejahatan Buffalo Bill seorang pembunuh berantai yang memiliki kebiasaan membunuh dan menguliti korban wanitanya. Ia ditugaskan untuk mengusut kasus ini dan meminta bantuan pada Hanibal Lecter seorang narapidana yang sangat berbahaya yang dulu merupakan psikiater dan seorang kanibal. Ternyata Buffalo Bill merupakan bekas murid dari Hanibal Lecter.
Belum tuntas dalam mengusut kasus ini ternyata putri senator AS diculik oleh Buffallo Bill dan Clarice harus memecahkan masalah dan harus menemukan keberadaan putri sang senator tepat pada waktunya sebelum Buffalo Bill membunuh putrinya. Tidak mudah dalam mendapatkan informasi dari Lecter, Starling harus melakukan penawaran terlebih dahulu bahwa akan memindahkan Lecter di tempat yang lebih nyaman dengan pemandangan yang indah dan Lecter dapat membaca buku dengan leluasa jika ia mau membantu menangani kasus ini. Ketika persetujuan terjadi Lecter tidak hanya menyetujui begitu saja tetapi ia ingin Starling juga menceritakan masa lalunya dengan berkata “jasa harus dibalas dengan jasa”. Hanibal Lecter bisa melarikan diri dengan melepaskan borgol dan membunuh petugas dengan memakan wajahnya. Lalu ia menyamar menjadi petugas yang sekarat dan dibawa ke rumah sakit, cara ini mempermudah ia kabur. Starling pun dapat menemukan Buffalo Bill seorang diri dengan mendatangkan rumah Bill dan berhasil menyelamatkan putri senator.
Di dalam film Hannibal Rising disitu dijelaskan awal mula Lecter sebagai kanibal. Ternyata sewaktu kecil Lecter melihat adiknya Mischa dibunuh dan dimakan oleh segerombolan penjajah, dan ketika Lecter masuk sekolah di kedokteran medis ia mulai mencari orang-orang yang pernah membunuh adiknya itu dan membunuhnya satu-satu. Bahkan Lecter juga menjadikan mayat tersangkanya itu sebagai santapannya.

Analisis
Menurut teori belajar social, perbuatan melihat saja menggunakan gambaran kognitif dari tindakan, secara rinci dasar kognitif dalam proses belajar dapat diringkas dalam 4 tahap , yaitu : perhatian / atensi, mengingat / retensi, reproduksi gerak , dan motivasi.
1) Perhatian (’Attention’)
Subjek harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat mempelajarinya. Subjek memberi perhatian tertuju kepada nilai, harga diri, sikap, dan lain-lain yang dimiliki.

2) Mengingat (’Retention’)
Subjek yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam sistem ingatannya. Ini membolehkan subjek melakukan peristiwa itu kelak bila diperlukan atau diingini. Kemampuan untuk menyimpan informasi juga merupakan bagian penting dari proses belajar.

3) Reproduksi gerak (’Reproduction’)
Setelah mengetahui atau mempelajari sesuatu tingkahlaku, subjek juga dapat menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku. Contohnya, mengendarai mobil, bermain tenis. Jadi setelah subyek memperhatikan model dan menyimpan informasi, sekarang saatnya untuk benar-benar melakukan perilaku yang diamatinya. Praktek lebih lanjut dari perilaku yang dipelajari mengarah pada kemajuan perbaikan dan keterampilan.
4) Motivasi
Motivasi juga penting dalam pemodelan Albert Bandura karena ia adalah penggerak individu untuk terus melakukan sesuatu.

Dalam film Hannibal ini jelas terlihat bahwa Hannibal menjadi kanibal karena adanya proses belajar dalam teori Bandura. Dimana Lecter menggunakan modelling dalam kasus kanibalnya itu. Dalam proses modelling Lecter menggunakan retention mengingat apa yang telah terjadi terhadap adiknya dengan setiap malam memimpikan kejadian itu. Lalu ia mulai menunjukkan tingkah laku nya dengan bersifat agresif ketika kesal dengan seseorang dan memulai pembunuhan pertamanya dengan memenggal kepala seorang penjual daging. Dalam kasus kanibalnya ini Lecter mempunyai motivasi untuk membalaskan dendamnya yang telah berbuat tidak manusiawi terhadap adiknya itu
Dalam pengungkapan kasus di dalam film tetralogi ini sebagian besar menggunakan teknik observasi dan wawancara. Dimana para agen FBI mengumpulkan data-data terlebih dahulu kemudian mewawancarai Lecter. Dalam film Silent of The Lamb Starling meminta bantuan Lecter untuk mengungkap penculik anak senator dengan memberikan data-data pada Lecter dan mewawancarai Lecter untuk memberikan informasi tentang sang penculik anak senator.

Referensi
http://psychology.about.com/ 





Teknik Observasi

Sabtu, 10 Mei 2014

Observasi merupakan cara pengumpulan data dengan melakukan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.

Jenis - jenis observasi
·         Observasi Partisipan
Dalam observasi ini peneliti terlibat secara langsung. Misal: peneliti ikut menjadi murid dikelas sekaligus observasi kondisi kelas atau si peneliti menjadi guru di kelas yang mengatur kondisi dan sekaligus observasi

·         Observasi Non- partisipan
Dalam observasi ini peneliti tidak terlibat secara langsung. Peneliti hanya mencatat,menganalisa dan membuat kesimpulan atas perilaku yang ditunjukkan objek

·         Observasi Terstruktur
Observasi ini dilakukan secara sistematis. Dimana peneliti sudah tahu variabel yang akan diamati. Apa yang akan diamati, kapan, dan dimana tempatnya. Peneliti menggunakan instrument penelitian yang sudah teruji validitasnya.

Instrumen Observasi
·         Daftar cek
Daftar pengamatan, peneliti tinggal mencek apa saja yang cocok dan yang tidak

·         Catatan anekdot

·         Skala penilaian
Pencatatan gejala berdasarkan skala yang telah disusun sebelumnya

·         Alat –alat mekanik
Alat-alat yang mendukung seperti cctv, kamera video dll

Hal yang harus diperhatikan
·         Ada tidaknya prasangka observer terhadap objek
·         Kemampuan observer
·         Ketepatan mengunakan instrumen observasi

Kelebihan metode observasi
·         Dapat mencatat hal-hal, perilaku dan sebagainya pada waktu kejadian itu berlangsung.
·         Dapat memperoleh data secara langsung dari subjek

Kekurangan metode observasi
·         Diperlukan waktu yang lama untuk memperoleh hasil dari suatu kejadian
·         Tidak semua peristiwa psikis dapat ditangkap dengan observasi. Misalnya harapan
Adanya perilaku yang dibuat-buat ketika objek tahu sedang diamati

Jenis- Jenis Tes Psikologi

Minggu, 04 Mei 2014

Dalam masa ini tes psikologi dalam berbagai bidang mulai diminati. Dalam kepentingan akademis, instansi maupun perusahaan. Dalam memilih alat tes tentu tidak sembarangan. Lihat apa yang akan diukur dan perhatikan validitas dan reliabel alat tes itu sendiri.
Syarat –syarat alat tes psikologi :
1.       Validitas
Sejauh mana ketepatan alat tes dalam suatu pengukuran. Suatu alat tes harus diukur validitasnya karena mengacu kepada ketepatan terhadap hal yang seharusnya diukur.
2.       Reliabel
Sejauh mana alat tes itu memiliki kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali – kali dalam waktu yang berbeda.

Jenis – jenis alat tes psikologi

Berikut adalah jenis-jenis alat tes yang sering digunakan karena alat tes ini sudah terbukti memenuhi syarat dan mudah untuk dilakukan
1.       Test Wais ( Weschler Intelligence Scale for Children )
Tes ini digunakan untuk mengukur intelegensi seseorang  dengan rentang usia 16-74 tahun. Dalam tes ini gejala lain yang dapat diungkap yaitu adanya Mental Deterioration dimana seseorang mengalami penurunan perkembangan mental

2.       Test CFIT ( Culture Fair Intellegence Test )
Sama dengan tes WAIS tes CFIT berguna untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang.

3.       Test DAT ( Differential Aptitude Test )
Tes untuk mengukur bakat seseorang. Tes ini dapat membantu seseorang dalam melakukan rencana-rencana kerja ataupun sekolah. Selain itu tes ini dapat bekerja untuk mengatasi masalah-masalah pendidikan pada anak.

4.       Test Kuder Preference Record Vocational
Tes untuk mengukur minat seseorang sehingga bisa ditentukan kualifikasi jabatan sesuai minat. Dalam tes ini benar-benar berfokus pada mengukur minat sehingga mengesampingkan faktor kognitif

5.       Test Lee-Thorpe
Tes yang dilakukan individu dalam membantu inventori minat jabatannya. Dengan begitu individu dapat dengan mudah menjalankan aktivitas pekerjaannya sesuai dengan minatnya.

6.       Test EPPS ( Edward Personality Preference Schedule )
Tes ini merupakan tes yang digunakan untuk mengukur kepribadian seseorang. Dalam tes ini seseorang diberi 225 item pernyataan dimana di dalamnya sudah temasuk aspek-aspek yang diukur

7.       Test Standford Binet
Tes intelegensi yang dimana sasarannya adalah anak-anak dan balita.dengan tes ini dapat diketahui indikasi kelainan mental dengan IQ yang rendah.
Hasil tes psikologi bisa saja tidak sesuai karena alat tes yang digunakan tidak sesuai dengan apa yang diukur. Maka harus benar-benar tepat dalam memilih alat tes. Kemudian bisa juga karena cara penyampaian yang tidak baik dapat mempengaruhi hasil tes maka dari itu perlu adanya keterampilan yang handal seorang penguji dalam penyampaian kalimat. Bisa juga dipengaruhi oleh suasana saat tes.maka dari itu perlu diperhatikan semuanya sebelum melakukan pengetesan.

#Tes psikologi bukanlah hasil kebenaran mutlak tetapi sebuah langkah awal untuk mengenali diri beserta potensi-potensinya.#



Tes Kemampuan Mental

Senin, 31 Maret 2014

Psikologi kelas B #4

Kemampuan mental (Mental Ability) adalah istilah yang masih sering digunakan untuk beberapa pengertian yang tidak sepenuhnya sama. Kemampuan mental biasa diartikan sebagai:
1.    Intelegensi umum, dimana tidak mencakup bakat seseorang
2.    Kemampuan yang meliputi baik intelegensi umum maupun bakat dalam bidang numeric, spasial dan sebagainya.

Sorenson(1977) intelegensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak, belajar merespon dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Menurut David Wechsler, intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa intelegensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi :
1)                             Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
2)                            Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

Prestasi seseorang ditentukan juga oleh tingkat kecerdasannya (Inteligensi). Walaupun mereka memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan orang tuanya memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya, tetapi kecerdasan mereka yang terbatas tidak memungkinkannya untuk mencapai keunggulan. Tingkat Kecerdasan Tingkat kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang; terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak kuat terhadap kecerdasan seseorang). Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.    kemampuan untuk berpikir abstrak
2.            Kemampuan untuk menangkap hubungan-hubungan
3.            Kemampuan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru

Louis Leon Thurstone
Thurstone terkenal dengan teorinya yang disebut Theory of Primary Mental Abilities (Teori Kemampuan Metal Primer). Teori ini berdasarkan pada penemuannya mengenai interelasi di antara tes-tes kemampuan yang menggunakan teknis analisis faktor jamak. Ia menemukan bahwa semua tes berkorelasi secara positif akan menunjukkan pasti terdapat satu faktor atau beberapa faktor yang sama di antara faktor-faktor tadi. Analisis faktor dari tes-tes yang diberikan kepada sejumlah individu menunjukkan bahwa di dalamnya paling sedikit terdapat tujuh kemampuan mental primer,anatara lain:
1.   Kemampuan verbal
Kemampuan untuk memahami dan menggunakan konsep-konsep verbal secara efektif
2.   Bilangan (Number)
Kemampuan untuk menyelesaikan hitungan secara cepat dan benar
3.   Kemampuan spatial
Kemampuan untuk menangkap dan menguraikan objek dalam ruang
4.   Perseptual
Kemampuan untuk mengidentifikasi objek dengan cepat dan cermat
5.   Ingatan
kemampuan untuk belajar dan menyimpan informasi
6.   Pemikiran dan Pertimbangan
Kemampuan untuk menerima dan menggunakan relasi abstrak di dalam pemecahan masalah
7.  Kefasihan kata
Kemampuan memikirkan kata dengan tepat
          Penemuan Thurstone berlawanan dengan Binet yang menganggap intelegensi sebagai suatu kesatuan kemampuan dan telah mengukurnya dengan satu tes yang menghasilkan satuskor tunggal atau menghasilkan IQ.

Tes Individu dan Populasi Khusus serta Tes Minat

Minggu, 23 Maret 2014

Psikologi kelas B #3
Tes psikologi pada dasarnya untuk membantu individu dalam menggambarkan potensi, kelebihan, kekurangan dari suatu individu tersebut dalam suatu uraian kepribadian. Ada beberapa tes psikologi, disini saya akan membahas tes individu dan populasi khusus serta tes minat.
Dahulu dikatakan bahwa tes Binet dan tes Wechsler adalah tes kemampuan individual, karena masing-masing tes tersebut dilakukan secara individual dengan satu penguji khusus serta biasanya dilakukan dengan cara tertulis. Tes kemampuan ini berfungsi jika sejumlah individu harus segera dievaluasi, sementara hanya terdapat sedikit penguji yang bisa melakukan pengujian. Salah satu bentuk tes klasikal adalah SPM (Standard Proggresive Matrices).
Tes populasi khusus
Tes ini dikembangkan untuk orang-orang yang tidak bisa diuji menggunakan tes-tes yang biasa digunakan pada individu umumnya. Instruksi yang diberikan pada populasi khusus ini dengan menggunakan gerak tubuh, demonstrasi, gerak tubuh dan bisa juga menggunakan huruf braille. Prototipe tes kelompok non bahasa salah satunya adalah Army examination Beta yang digunakan untuk merekrut orang berbahasa asing dan buta huruf.
Cara yang biasa digunakan jika ingin mengetahui intelegensi anak dibawah tiga tahun adalah dengan cara kinerja yang pertama kali dikembangkan adalah pada tahun 1866 adalah Seguin Form Board, yang menggunakan puzzle untuk digunakan dalam tes pada anak-anak yang mengalami tes retardasi mental. Tes lainnya adalah Porteus Maze yang berupa tes jaringan jalan yang rumit dan memiliki tingkat kesulitan yang bertingkat (Morris, 1990).
Hal lain adalah ketika ingin mengetahui intelegensi sesorang yang berada di daerah pedalaman dan mereka tidak mengerti pendidikan dan baca tulis. Kita bisa menggunakan gambar atau gerak tubuh. Tentu dengan observasi terlebih dahulu dengan lingkungannya.
Tes minat dan sikap
Minat dan sikap merupakan aspek yang penting dalam struktur kepribdian karena mempengaruhi prestasi pendidikan dan pekerjaan serta hubungan antar pribadi. Tes minat banyak digunakan pada sekolah-sekolah untuk mengukur minat siswanya, biasanya untuk mengukur minat jurusan atau perkuliahan.
Jenis-jenis inventori minat
·         KUDER, SII (Strong Interest Inventory yang diturunkan dari model teoritis yang dikembangkan oleh J.Holland)
·         SVIB
·         Self Directed Search

Referensi
repository.binus.ac.id/2009-1/.../L016446937.ppt

   


Konsep Dasar Tes Psikologi

Minggu, 16 Maret 2014




Psikologi kelas B #2
 

Secara tradisional, fungsi tes-tes psikologi adalah untuk mengukur perbedaan antara individu atau perbedaan reaksi individu terhadap situasi yang sama. Salah satu masalah awal yang mendorong pertumbuhan tes psikologis adalah identifikasi orang-orang yang tebelakang mental. Penerapan tes psikologis yang nyata dapat ditemukan dalam seleksi dan klasifikasi personel militer. Diawali dengan tes sederhana dalam Perang Dunia I, lingkup dan ragam tes-tes psikologis yang digunakan dalamsituasi militer terus berkembang dengan luar biasa selama Perang Dunia II. Berikutnya, penelitian untuk perkembangan tes terus berlanjut dalam ukuran besar disemua cabang angkatan bersenjata.
Apa tes psikologis itu???
Sampel perilaku
Tes psikologis pada dasarnya adalah alat ukur yang objektif dan dibakukan atas sampel perilaku tertentu. Tes-tes psikologis mirip dengan tes-tes dalam ilmu-ilmu lainnya, observasi dibuat atas sampel yang kecil namun dipilih secara hati-hati atas perilaku individu. Psikolog berperan dengan cara yang sama seperti ahli biokimia yang melakukan tes darah pasien dengan menganalisis satu sampel atau lebih.

Standarisasi
Standarisasi menyiratkan keseragaman cara penyelenggaraan dan penskoran tes. Jika skor yang diperoleh dari beberapa sampel bisa dibandingkan, maka alat tes dan kondisi-kondisi tes jelas harus sama. Standarisai menyangkut jumlah tempat materi yang digunakan, batas waktu, instruksi lisan, demonstrasi awal, dan bagaimana cara menjawab pertanyaan dari peserta tes.  Dalam standarisasi tes penting juga untuk penetapan norma-norma.

Pengukuran kesulitan yang objektif
 Penyelenggaraan, penilaian, dan interpretasi skor adalah objektif sejauh skor-skor tak tergantung pada penilaian subjektif penguji tertentu. Peserta tes harus secara teoritis memperoleh skor yang sama pada tes terlepas dari siapa pengujinya. Namun tidak selalu demikian situasinya karena standarisasi dan objektifitas yang sempurna tidak didapatkan dalam praktek.

Keandalan
Istilah “keandalan” pada dasarnya adalah konsistensi. Keandalan tes adalah konsistensi skor-skor yang didapat oleh orang-orang yang sama ketika dites ulang dengan tes yang sama atau dengan tes yang ekuivalen dengan tes sebelumnya. Sebelum tes psikologi itu digunakan untuk dipublikasikan dan digunakn secara umum, pemeriksaan yang mendalam dan objektif tentang keandalannya harus dilakukan.

Validitas
Tak diragukan lagi bahwa pertanyaan paling penting yang harus diajukan tentang tes psikologi manapun menyangkut validitasnya, sejauh mana tes itu berhasil mengukur apa yang memang hendak diukurnya. Penentuan validitas biasanya memerlukan kriteria independen dan eksternal tentang apapun yang menjadi sasaran pengukuran. Tes kejujuran misalnya dapat divalidasikan dengan terhadap sukses dalam pekerjaan dari kelompok percobaan pegawai baru. Validitas memberi tahu kita apa yang diukur oleh tes itu.

Syarat-syarat penyelenggaraan tes
Persiapan sebelumnya bagi para penguji
Dalam tes tidak boleh terjadi hal darurat yang tidak dipersiapkan. Harus dilakukan usaha dan meramalkan agar tidak terjadi hal-hal yang darurat.

 Kondisi-kondisi tes
Yang juga harus diperhatikan adalah kondisi tes. Bagaimana keadaan ruangan-ruangan tes, bebas dari suara bising, memiliki pencahayaan yang cukup, dan menempelkan tanda di pintu masuk bahwa kegiatan tes sedang berlangsung. Penting untuk menyadari sejauh mana kondisi tes bisa mempengaruhi hasil skor tes. Bahkan aspek-aspek situasi tes yang dianggap sepele dan tidak penting bisa amat mempengaruhi kinerja orang yang dites.

Pemahaman dan orientasi peserta tes
Dalam tes-tes bakat sasarannya adalah konsentrasi penuh pada tugas yang diberikan. Dalam tes kepribadian sasarannya adalah menghendaki peserta tes memberikan respon yang jelas dan jujur dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. 


sumber:  Anastasi Anne, Urbina Susana., 2007. Tes Psikologi Edisi Ketujuh . Jakarta: PT Indeks. 
 

Diberdayakan oleh Blogger.